Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, Latifah, S.S., M.A., mempresentasikan hasil riset yang berangkat dari proses pembelajaran pada mata kuliah Kajian Agama-Agama dalam National Symposium Religious Studies XIV & International Conference yang diselenggarakan oleh Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) di Bandung, 19–21 Agustus 2026. Dalam konferensi tersebut, Latifah menjadi presenter dengan paper berjudul “Reframing Ecological Learning through Documentary-Mediated Religious Meaning-Making: A Lived Religion Perspective on Buddhist Student.”
Penelitian tersebut berangkat langsung dari pengalaman pembelajaran mahasiswa di kelas Kajian Agama-Agama di STAB Kertarajasa. Mahasiswa berhadapan dengan persoalan ekologis, menyaksikan dokumenter Tirta Carita: Sendang Malang di Cekung Gunung, kemudian melakukan refleksi dan diskusi mengenai ekoteologi serta kearifan ekologis lokal. Data penelitian berupa dua teks reflektif kolaboratif yang dihasilkan mahasiswa setelah proses tersebut.

 

Pembelajaran sebagai Pengalaman yang Dapat Direfleksikan

Yang menjadi perhatian dalam penelitian Latifah bukan pengukuran keberhasilan pembelajaran, melainkan pengalaman belajar mahasiswa dan proses pemaknaan yang berlangsung di dalamnya. Teks reflektif mahasiswa dianalisis sebagai ekspresi religious meaning-making untuk memahami bagaimana mahasiswa membangun dan menegosiasikan makna keagamaan melalui pengalaman ekologis.

Pendekatan ini menempatkan penelitian dosen sebagai salah satu cara untuk melakukan refleksi pembelajaran yang lebih autentik. Pengalaman belajar mahasiswa tidak hanya dilihat dari hasil akhir atau indikator capaian yang dapat diukur, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa mengalami suatu persoalan, merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan dan keyakinan yang telah dimiliki, kemudian membangun pemahaman baru.

Dalam penelitian tersebut, perspektif lived religion digunakan untuk melihat bagaimana agama tidak berhenti sebagai doktrin, tetapi dihidupi, ditafsirkan, dan dinegosiasikan melalui pengalaman konkret. Dokumenter Tirta Carita menjadi ruang interpretatif yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan mata air, folklore, memori budaya, kerusakan lingkungan, praktik konservasi, dan kearifan ekologis lokal.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan dalam cara mahasiswa memaknai persoalan ekologis. Air, misalnya, tidak lagi semata-mata dipahami sebagai sumber daya yang dibutuhkan manusia, tetapi mulai dilihat sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang menghubungkan hutan, tanah, hujan, mata air, dan kehidupan.

Pengalaman ekologis tersebut juga mendorong mahasiswa menafsirkan kembali sejumlah konsep Buddhis, seperti paṭiccasamuppāda, kamma, ahiṃsā, dan karuṇā. Konsep-konsep yang sebelumnya bersifat abstrak memperoleh konteks baru ketika dihubungkan dengan persoalan air, kerusakan lingkungan, serta kehidupan makhluk lain. Mahasiswa tidak sekadar menerapkan doktrin Buddhis, tetapi melakukan reinterpretation through ecological experience.

Temuan lainnya memperlihatkan bagaimana mahasiswa mempertemukan ajaran Buddhis dengan kearifan ekologis lokal, antara lain sasi di Maluku, subak di Bali, dan tradisi mata air sakral di Malang Raya. Praktik-praktik tersebut dipahami bukan sekadar sebagai praktik budaya, tetapi sebagai bentuk living ecotheology yang mengandung nilai, relasi, tanggung jawab, dan upaya perlindungan lingkungan.

 

Lebih dari Diseminasi, Ruang Bertukar Pengalaman

Bagi Latifah, keikutsertaan dalam forum ASAI tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendiseminasikan hasil penelitian. Pertemuan secara langsung dengan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi juga memberikan kesempatan untuk berkenalan, membangun jejaring, serta berbagi pengalaman mengenai penelitian dan praktik akademik.

Pertukaran semacam ini menjadi bagian penting dari pengalaman mengikuti konferensi karena gagasan penelitian tidak hanya didiskusikan melalui paper dan sesi presentasi, tetapi juga melalui percakapan langsung dengan akademisi lain. Berbagai latar belakang institusi dan bidang kajian yang hadir dalam forum memberikan kesempatan untuk melihat persoalan yang sama dari perspektif yang berbeda.

Rangkaian kegiatan ASAI sendiri memperlihatkan keluasan forum tersebut. Selain konferensi internasional, agenda kegiatan mencakup seminar mengenai Studi Agama-Agama dan Isu-isu Ekoteologis, pengelolaan jurnal, penguatan kurikulum OBE, serta berbagai sesi presentasi penelitian.
Dengan demikian, keikutsertaan dosen dalam forum akademik seperti ini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian publikasi atau penyebarluasan hasil penelitian. Pertemuan akademik secara langsung juga menjadi ruang untuk belajar dari praktik yang dilakukan institusi lain, bertukar pengalaman, dan memperluas relasi akademik yang dapat mendukung perkembangan penelitian maupun pengelolaan pendidikan tinggi.

 

Belajar Mengelola Jurnal secara Praktis dan Etis

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah sesi “Pengelolaan Jurnal dan Launching Jurnal ASAI” yang menghadirkan Dr. Busro, M.Ag., sebagai salah satu narasumber. Busro menyampaikan sejumlah strategi praktis sekaligus menekankan pentingnya menjaga etika dalam upaya meningkatkan kualitas dan peringkat jurnal. Salah satunya berkaitan dengan keterlibatan editor atau pengelola jurnal sebagai reviewer pada jurnal-jurnal lain.

Menurut Busro, menjadi reviewer di berbagai jurnal selain jurnal yang dikelola dapat memberikan pengalaman dan jejaring akademik yang lebih luas. Dalam proses review, editor atau pengelola jurnal juga dapat menyarankan artikel atau sumber yang relevan untuk memperkuat substansi tulisan yang sedang ditelaah. Jika terdapat artikel dari jurnal yang dikelolanya dan memang relevan secara substantif, artikel tersebut dapat menjadi salah satu rujukan yang disarankan. Dengan demikian, peningkatan sitasi dilakukan melalui kontribusi akademik yang relevan, bukan sekadar mengejar angka sitasi.

Selain itu, Busro menyoroti pentingnya memperluas partisipasi penulis dari luar negeri. Salah satu cara yang dapat dilakukan pengelola jurnal adalah mengidentifikasi penulis potensial dari berbagai negara dan menyampaikan surat permohonan untuk berkontribusi pada jurnal.

“Jadi tidak hanya mencatut nama orang tanpa kontribusi nyata atau bahkan tanpa izin,” tandasnya. Menurutnya, keterlibatan akademisi internasional perlu dibangun melalui kontribusi yang nyata dan komunikasi yang jelas, bukan sekadar mencantumkan nama akademisi mancanegara untuk memenuhi kesan internasionalisasi jurnal.

Dalam upaya memenuhi persyaratan indeksasi Scopus, Busro juga mendorong pengelola jurnal untuk belajar dari jurnal-jurnal yang telah lebih dahulu terindeks. Pengelola dapat melakukan benchmarking terhadap berbagai aspek pengelolaan jurnal, termasuk bagaimana jurnal-jurnal tersebut merumuskan scope, menyusun struktur dan kebijakan jurnal, serta menyajikan informasi bagi penulis. Belajar dari jurnal yang telah terindeks, dalam hal ini, bukan berarti menyalin isi atau identitas jurnal, melainkan memahami standar dan praktik pengelolaan yang telah diterapkan oleh jurnal yang lebih mapan untuk kemudian disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan jurnal masing-masing.

 

Dari Kelas Menjadi Kontribusi Akademik

Keikutsertaan Latifah dalam forum ASAI memperlihatkan hubungan yang saling menguatkan antara pembelajaran, penelitian, dan pengembangan kapasitas akademik. Pengalaman mahasiswa dalam pembelajaran dapat dikembangkan menjadi penelitian untuk memahami bagaimana agama dihidupi, dimaknai, dan dinegosiasikan ketika mahasiswa berhadapan dengan persoalan kontemporer, khususnya persoalan ekologis.

Pada saat yang sama, forum akademik memberikan ruang bagi dosen untuk membawa pengalaman tersebut ke dalam percakapan yang lebih luas sekaligus belajar dari pengalaman akademisi lain. Penelitian tidak berhenti pada ruang kelas atau pada publikasi, tetapi kembali menjadi bahan refleksi untuk memperkaya praktik pembelajaran dan pengembangan akademik.

Bagi dosen, pengalaman mengikuti forum semacam ini pada akhirnya bukan hanya tentang mempresentasikan apa yang telah dikerjakan. Ia juga menjadi kesempatan untuk mendengarkan, berkenalan, bertukar pengalaman, dan membawa pulang gagasan baru yang dapat diolah kembali dalam penelitian, pembelajaran, maupun pengelolaan kehidupan akademik di institusi masing-masing.

FORUM RELIGIOUS STUDIES

Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI)