Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi, termasuk dalam pembelajaran agama. Isu ini menjadi perhatian mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa yang berpartisipasi dalam Seminar Nasional Sanata Dharma Berbagi 2026 bertema “Tradisi Pendidikan Tinggi dan Disrupsi AI”, Jumat (9/10/2026). Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, tersebut, Putri Wulandari, Sacca Giri Vira Gatha, dan dosen Latifah, S.S., M.A., mempresentasikan makalah berjudul “Refleksi Pengalaman Mahasiswa dalam Menggunakan AI untuk Tugas Akademik Keagamaan Buddhis”. Kegiatan berlangsung secara daring dengan rangkaian agenda seminar, simposium riset, dan sesi paralel yang membahas berbagai aspek pemanfaatan AI dalam pendidikan tinggi.
Makalah tersebut mengangkat pengalaman mahasiswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas akademik yang berkaitan dengan Bahasa Pāli dan Abhidhamma. Kedua bidang ini menuntut ketepatan istilah, pemahaman konteks ajaran, serta penggunaan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, hasil yang diberikan AI tidak dapat diterima begitu saja tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap delapan mahasiswa aktif STAB Kertarajasa yang memiliki pengalaman menggunakan AI untuk tugas Bahasa Pāli dan Abhidhamma. Analisis dilakukan secara tematik untuk memahami pengalaman, pertimbangan, dan refleksi mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan AI untuk menerjemahkan bahasa Pāli, memahami materi Abhidhamma, mencari referensi, serta mengembangkan dan menyusun tugas akademik. Namun, penelitian ini juga menemukan persoalan akurasi informasi dan ketidakkonsistenan dalam proses verifikasi. Mahasiswa telah menyadari bahwa jawaban AI tidak selalu tepat, tetapi kesadaran tersebut belum sepenuhnya diikuti kebiasaan memeriksa ulang setiap informasi melalui sumber lain. Temuan ini memperlihatkan bahwa kemudahan memperoleh jawaban belum tentu sejalan dengan kedalaman pemahaman. Dalam tugas akademik keagamaan, penggunaan referensi yang tidak dipahami secara memadai berisiko memengaruhi ketepatan pemahaman terhadap materi ajaran. Oleh sebab itu, kemampuan memeriksa informasi, memahami sumber, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan tetap menjadi bagian penting dari proses belajar. Penelitian tersebut juga mencatat kecenderungan sebagian mahasiswa untuk beralih dari penggunaan AI sebagai sarana memperoleh jawaban secara langsung menuju pemanfaatan yang lebih selektif dan reflektif. Pergeseran ini menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan literasi AI, terutama agar teknologi berfungsi sebagai alat bantu belajar tanpa mengambil alih tanggung jawab intelektual mahasiswa.
Menguatkan Peran Pendidikan Tinggi di Era AI
Persoalan tersebut sejalan dengan tema besar Seminar Nasional Sanata Dharma Berbagi 2026, yang mengajak perguruan tinggi meninjau kembali perannya di tengah perkembangan AI. Dalam pendidikan tinggi, tantangannya tidak berhenti pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga menyangkut bagaimana proses pembelajaran tetap mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, membangun pemahaman, dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang dihasilkan. Bagi pendidikan keagamaan Buddha, refleksi ini relevan dengan kebutuhan menjaga ketelitian dalam mempelajari teks dan ajaran, sekaligus membangun sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh melalui teknologi digital. AI dapat membantu mahasiswa mengakses dan mengolah informasi, tetapi penilaian terhadap ketepatan, konteks, dan maknanya tetap membutuhkan keterlibatan manusia.
Keikutsertaan Putri Wulandari, Sacca Giri Vira Gatha, dan Latifah, S.S., M.A., dalam forum akademik nasional ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kajian mengenai pengalaman mahasiswa STAB dalam menghadapi disrupsi AI. Partisipasi tersebut sekaligus membawa persoalan konkret pendidikan keagamaan Buddha ke dalam diskusi yang lebih luas tentang masa depan pendidikan tinggi. Melalui penelitian dan forum ilmiah semacam ini, pengalaman pembelajaran di lingkungan STAB Kertarajasa dapat menjadi bahan refleksi untuk mengembangkan pemanfaatan AI yang kritis, etis, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, tantangan pendidikan tinggi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap mendukung proses pembentukan manusia yang mampu berpikir, memahami, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.