Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Batu, 22 September 2026 — Dalam rangka memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama di kalangan generasi muda, Penyuluh Agama Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Batu menyambangi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa melalui kegiatan “Penyuluh Goes to Campus.” Kehadiran Penyuluh Agama Kemenag Kota Batu disambut antusias oleh mahasiswa STAB Kertarajasa. Mahasiswa dikenalkan dengan konsem moderasi beragama dalam agama kristen, islam dan Buddha serta bagaimana kosep tersebut diejawantahkan dalam dalam kehidupan, baik dalam lingkungan kampus, keluarga, masyarakat, maupun ruang digital. Sikap menghargai perbedaan, menghindari ekstremisme, membangun komunikasi lintas agama, serta menjaga persatuan menjadi bagian penting dalam pembahasan kegiatan.

 

Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen

Dalam perspektif Kristen, moderasi beragama dipahami sebagai pengorbanan ego, bukan pengorbanan iman, demi menciptakan kerukunan dan perdamaian. Artinya, menjaga hubungan baik dengan orang lain tidak berarti harus meninggalkan keyakinan yang dianut. Ada pun empat pilar dalam konsep moderasi beragama dalam perspektif Kristen yaitu Pertama, kasih vertikal dan kasih horizontal , sebagaimana tercermin dalam Matius 22 dan 1 Yohanes 4. Kasih kepada Tuhan perlu diwujudkan melalui kasih kepada sesama manusia. Kedua, kebenaran dalam kasih, yang dikaitkan dengan 1 Petrus 3:15. Kebenaran tidak disampaikan dengan kebencian atau permusuhan, tetapi dengan sikap yang tetap mengedepankan kasih dan penghormatan. Ketiga, kasih yang radikal, sebagaimana terdapat dalam Matius 5:44. Kasih tidak hanya diberikan kepada orang yang memiliki kesamaan dengan kita, tetapi juga kepada mereka yang berbeda. Keempat, aktif membawa damai, sebagaimana disebutkan dalam Matius 5:9. Perdamaian bukan sekadar keadaan yang diharapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam

Dari perspektif Islam, moderasi beragama dibahas melalui konsep wasathiyah, yaitu berdiri kokoh pada titik keseimbangan. Moderasi bukan berarti berada di tengah tanpa prinsip, melainkan mampu menjaga keseimbangan dalam menjalankan kehidupan beragama. Dalam pembahasannya, terdapat lima pilar yang menjadi dasar, yaitu tawassuth, tasamuh, tawazun, i'tidal, dan musawah. Tawassuth mengarah pada sikap mengambil jalan tengah; tasamuh berkaitan dengan toleransi; tawazun menekankan keseimbangan; i'tidal berkaitan dengan sikap adil dan lurus; sedangkan musawah menekankan kesetaraan. Maka dari itu, kelima prinsip tersebut menunjukkan pentingnya menjalankan kehidupan beragama dengan tetap memiliki keyakinan, tetapi tidak mengabaikan keberadaan dan hak orang lain.

 

Moderasi Beragama dalam Perspektif Buddha

Dalam moderasi beragama dalam agama Buddha memiliki konsep Majjhimā Paṭipadā (Jalan Tengah). Konsep ini memiliki prinsip hidup dan praktik spiritual yang menghindari segala bentuk tindakan atau pandangan yang ekstrem. Pertama. Menolak gaya hidup yang hanya mementingkan pemuasan hawa nafsu atau kenikmatan indria yang berlebihan (kāmasukhallikānuyoga), serta menolak praktik penyiksaan diri atau pertapaan ekstrem yang melemahkan tubuh (attakilamathānuyoga). Kedua, menghindari pandangan ekstrem eternalisme (percaya bahwa jiwa/dunia kekal abadi secara mutlak) dan nihilisme (percaya bahwa segala sesuatu musnah tanpa bekas atau ketiadaan mutlak). Dalam implementasinya, dirumuskan ke dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.

 

Moderasi Beragama sebagai Jalan Menuju Perdamaian Dunia

Ketiga perspektif tersebut meskipun memiliki istilah dan landasan teologis yang berbeda, namun memiliki prinsip kemanusiaan yang sama. Prinsip yang mendorong manusia untuk menghindari sikap ekstrem, menghargai sesama, mengembangkan kasih dan toleransi, serta membangun kehidupan yang damai. Moderasi beragama dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi perdamaian, karena perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik atau pertikaian, melainkan kemampuan manusia untuk hidup bersama secara adil, saling menghormati, dan menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.

Indonesia adalah contoh yang menarik mengenai bagaimana moderasi beragama memiliki hubungan dengan agenda perdamaian dunia. Sebagai masyarakat yang dibentuk oleh keberagaman agama, etnis, budaya, bahasa, dan tradisi, Indonesia menghadapi tantangan untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan tersebut. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa Perbedaan di dalam keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan ketika dikelola melalui dialog, penghormatan, keadilan, dan kerja sama. Meski tidak dipungkiri juga dapat menjadi sumber ketegangan dan konflik apabila dipertajam oleh prasangka, diskriminasi, fanatisme, ujaran kebencian, maupun penyebaran informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, praktik moderasi beragama menjadi penting untuk membangun cara beragama yang mampu berdampingan dengan identitas yang berbeda.

Dinamika tersebut semakin kompleks pada era digital. Di satu sisi, ruang digital dapat menjadi sarana memperkenalkan pesan perdamaian, memperluas dialog lintas agama, dan mempertemukan berbagai komunitas. Namun, di sisi lain, ruang yang sama dapat memperbesar prasangka dan polarisasi ketika digunakan untuk menyebarkan stereotip, provokasi, atau kebencian terhadap kelompok lain. Moderasi beragama pada masa kini tidak cukup diwujudkan melalui hubungan baik di lingkungan sekitar, tetapi juga melalui etika dalam berkomunikasi dan berinteraksi di ruang digital. Kemampuan untuk memeriksa informasi, tidak mudah menyebarkan kebencian, menghargai perbedaan pendapat, dan menghindari generalisasi terhadap kelompok agama tertentu merupakan kontribusi nyata masyarakat terhadap perdamaian.

Pengalaman Indonesia dalam menghadapi ketegangan dan konflik “agama” memiliki relevansi dengan perdamaian dunia. Konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia sering kali memiliki persoalan yang kompleks dan tidak semata-mata disebabkan oleh agama. Identitas agama seringkali menjadi salah satu unsur yang dimanfaatkan atau dipertentangkan ketika masyarakat kehilangan ruang dialog dan penghormatan terhadap perbedaan. Maka dari itu, pengalaman dari Indonesia dapat diarahkan pada satu gagasan sederhana “perdamaian dunia tidak hanya dibangun melalui diplomasi antarnegara, tetapi juga melalui kebiasaan manusia dalam memperlakukan orang yang berbeda darinya”. Ketika masyarakat terbiasa berdialog, menghargai keyakinan orang lain, menolak kekerasan, dan memperjuangkan keadilan, pada akhirnya nilai-nilai tersebut membentuk budaya damai yang dapat berkembang dari lingkungan keluarga, kampus, komunitas, masyarakat, hingga hubungan antarbangsa.

Di tengah Indonesia yang plural, mahasiswa STAB Kertarajasa memiliki posisi strategis sebagai agen organik moderasi beragama.  Sebagai kaum intelektual dan calon pendidik, mahasiswa Buddhis harus dapat menghadirkan wajah keberagamaan yang terbuka, kritis, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Peran itu dapat hidup melalui keberanian membangun dialog lintas agama, menghargai perbedaan keyakinan, tidak prasangka dan diskriminasi, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta terlibat dalam kegiatan sosial yang mempertemukan berbagai kelompok dan lapisan masyarakat. Maka, konsep moderasi beragama yang diwacanakan, disuarakan, dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sehingga dapat menumbuhkan saling percaya, memperluas ruang perjumpaan, dan menjadikan keberagaman Indonesia sebagai kekayaan yang mempersatukan, bukan alasan untuk saling menjauh. Dari sinilah nilai-nilai perdamaian dapat tumbuh yaitu dari diri sendiri, keluarga, kampus, masyarakat, Indonesia, hingga dunia.

 

Kesimpulan

Moderasi beragama dalam perspektif Kristen, Islam, dan Buddha menunjukkan adanya nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya kehidupan yang damai. Kasih kepada sesama, wasathiyah, Majjhimā Paṭipadā, toleransi, keseimbangan, keadilan, kesetaraan, serta penolakan terhadap sikap ekstrem menunjukkan bahwa keberagamaan memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan perdamaian. Pengalaman Indonesia pada moderasi dapat menjadi contoh bagi dunia karena moderasi beragama menjadi kebutuhan bersama untuk menjaga kerukunan sekaligus menghadapi tantangan baru seperti polarisasi, prasangka, ujaran kebencian, dan konflik. Pada akhirnya, perdamaian dunia adalah tanggungjawab setiap manusia untuk membangun hubungan yang menghargai perbedaan.

Moderasi Beragama