Berita Detail

Latifah

Sebuah temuan menarik lahir dari penelitian doktoral Amita Wardhani, dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, yang juga dikenal dengan nama Aṭṭhasīlanī Guṇanandinī. Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar dengan disertasi yang mengungkap konsep "Diferensiasi Produktif" dalam kegiatan Dhammadesana. Setelah sukses mempertahankan disertasinya yang berjudul "Diferensiasi Teks dan Konteks Acara Dhammadesana di Vihāra Buddha Sakyamuni, Denpasar, Bali" di hadapan dewan penguji, Aṭṭhasīlanī Guṇanandinī mengikuti wisuda doktor yang dilaksanakan pada 23 Mei 2026 lalu.

 

Mematahkan Asumsi Negatif tentang Perbedaan Ajaran dan Praktik

Selama ini, masyarakat cenderung memandang perbedaan antara tuntutan kitab suci dan praktik nyata keagamaan sebagai sebuah penyimpangan atau distorsi. Namun, penelitian Amita Wardhani justru menemukan hal sebaliknya. Dalam disertasinya, ia mengidentifikasi bahwa tidak semua diferensiasi bersifat disfungsional atau merugikan.

Penelitian yang dilakukan di Vihāra Buddha Sakyamuni, Denpasar—salah satu pusat aktivitas keagamaan Buddha tertua dan teraktif di Bali—menemukan adanya enam faktor penyebab perbedaan antara teks Tipiṭaka Pāli dan konteks pelaksanaan Dhammadesana. Keenam faktor tersebut adalah perubahan sumber pengetahuan Dhamma, perbedaan tujuan pembabaran, karakteristik audiens, faktor lingkungan dan waktu, dominasi teknologi modern, serta hambatan bahasa.

Namun, yang paling menarik adalah temuan bahwa perbedaan tersebut telah melahirkan bentuk-bentuk adaptasi yang justru memperkaya praktik keagamaan Buddha di Bali. Amita menyebut fenomena ini sebagai "Diferensiasi Produktif" —yakni bentuk perbedaan antara teks dan konteks yang memungkinkan ajaran Dhamma tetap relevan, adaptif, dan transformatif dalam lanskap sosial-budaya yang terus berubah, tanpa kehilangan esensi inti ajarannya.

 

Wujud Diferensiasi Produktif dalam Kehidupan Umat Buddha Bali

Penelitian ini memaparkan secara rinci bagaimana diferensiasi produktif termanifestasi dalam kehidupan umat Buddha di Vihāra Buddha Sakyamuni.

Dalam aspek budaya, terjadi integrasi yang harmonis antara ajaran Buddha dengan kearifan lokal Bali. Umat Buddha Bali tetap menjaga warisan budaya setempat dengan menggunakan pakaian adat Bali berwarna putih saat datang ke vihāra, menggunakan dulang buah bercorak ukiran Bali dalam persembahan puja di altar Buddha, serta menerapkan filosofi Tri Mandala (pembagian tiga zona suci) dalam arsitektur bangunan vihāra. Hal ini membuktikan bahwa ajaran Buddha tidak menghapus budaya lokal, melainkan hidup berdampingan dan bahkan memperkayanya.

Dalam aspek sosial, vihāra bertransformasi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat moderasi beragama. Melalui kegiatan Dhammadesana yang rutin dan terstruktur, vihāra berfungsi sebagai lembaga sosial-keagamaan yang aktif membina moral, pendidikan sosial, dan penguatan komunitas. Umat Buddha diajarkan untuk hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat multikultural dan pluralistik, dengan sikap saling menghormati antarumat beragama.

Dalam aspek ekonomi, penelitian ini mengungkapkan bahwa Dhammadesana menjadi sarana menanamkan prinsip penghidupan yang benar sesuai ajaran Buddha. Umat diajarkan untuk mengendalikan konsumerisme, menghindari pemborosan, serta mengelola keuangan secara sehat. Lebih jauh, kegiatan keagamaan di vihāra turut menciptakan aktivitas ekonomi lokal dan memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui penekanan pada etos kerja, disiplin, serta kepedulian sosial.

Dalam aspek keagamaan, meskipun terjadi pergeseran orientasi dari pencapaian kesucian batin menuju penambahan pengetahuan, penelitian ini menegaskan bahwa Dhammadesana tetap memperkuat keyakinan dan praktik moral umat. Penggunaan teknologi digital seperti siaran langsung dan YouTube terbukti memperluas jangkauan penyebaran Dhamma secara nasional bahkan internasional.

 

Manfaat Penelitian bagi Masyarakat

Amita Wardhani menekankan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi berbagai pihak di masyarakat. Bagi umat Buddha, disertasi ini dapat menjadi pedoman praktis dalam menyelenggarakan dan mengikuti acara Dhammadesana. Umat diajak untuk meningkatkan literasi Dhamma, tidak hanya mengandalkan mendengarkan ceramah tetapi juga aktif membaca dan mempelajari Tipiṭaka, baik melalui terjemahan maupun bimbingan para bhikkhu. Penelitian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya sikap hormat dan penuh perhatian saat mendengarkan ajaran agar manfaat spiritual dapat tercapai secara optimal.

Bagi para pembabar Dhamma (Dhammaduta), penelitian ini menawarkan panduan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, pemahaman bahasa Pāli, serta penguasaan pengetahuan Dhamma. Metode penyampaian yang lebih interaktif dan dialogis—bukan sekadar monolog—sangat dianjurkan agar pesan Dhamma dapat terserap dengan baik oleh pendengar. Para pembabar Dhamma juga didorong untuk terus mengasah kemampuan mengkontekstualisasikan ajaran tanpa kehilangan esensi kebenarannya.

Bagi pengurus vihāra, penelitian ini merekomendasikan penyediaan program pembekalan dan pelatihan bagi para pembabar Dhamma, serta pengembangan perpustakaan Dhamma dan akses terhadap terjemahan Tipiṭaka yang lebih lengkap. Vihāra diharapkan terus berperan sebagai rumah moderasi beragama yang membina moral dan memperkuat komunitas.

 

Harapan bagi Masa Depan

Penelitian ini juga membuka mata bahwa Indonesia sangat membutuhkan lembaga khusus yang menekuni bidang terjemahan Tipiṭaka secara profesional dan berkelanjutan. Dengan terjemahan yang akurat, kontekstual, dan mudah dipahami oleh umat Buddha di seluruh Nusantara, kesesuaian antara teks Tipiṭaka dan pelaksanaan Dhammadesana dapat terus ditingkatkan.

Atas pencapaian gemilang ini, Ketua STAB Kertarajasa beserta seluruh dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan menyampaikan rasa bangga dan ucapan selamat yang sebesar-besarnya kepada  Aṭṭhasīlanī Guṇanandinī. Semoga gelar doktor yang diraih dapat membawa berkah dan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang agama Buddha dan kajian budaya, serta menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika STAB Kertarajasa untuk terus berkarya meneliti demi kemajuan umat dan bangsa.

Diferensiasi Produktif

Disertasi