Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, Latifah, berpartisipasi dalam 4th Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF 2026) yang berlangsung secara daring pada 6–13 September 2026. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari diseminasi hasil penelitian dosen STAB Kertarajasa dalam forum akademik. KCIF 2026 mengangkat tema “Menguatkan Kepemimpinan dan Kepedulian Feminis di Tengah Polarisasi Politik, Perang Ekonomi, dan Paradoks Teknologi Digital.”
Pada hari kedua konferensi tersebut, Latifah mempresentasikan penelitian berjudul “Kepemimpinan Berbasis Kepedulian di Tengah Polarisasi: Politik Ingatan dan Galeri Ursulin Malang”. Kajian tentang Galeri Ursulin Malang juga berkaitan dengan bidang akademik yang ditekuni Latifah sebagai pengampu mata kuliah Kajian Agama-Agama di STAB Kertarajasa. Kajian agama dalam konteks akademik membuka ruang untuk mempelajari pengalaman, tradisi, sejarah, dan praktik komunitas keagamaan yang beragam sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan.
Melalui perspektif tersebut, penelitian tentang komunitas Ursulin tidak dimaksudkan untuk keluar dari identitas STAB Kertarajasa sebagai perguruan tinggi berbasis Buddha. Sebaliknya, penelitian ini menjadi bagian dari pengembangan wawasan akademik tentang keberagaman agama dan kehidupan keagamaan di Indonesia.
Penelitian Latifah berangkat dari pertanyaan apakah kegiatan merawat dapat menjadi bentuk kepemimpinan. Melalui studi kasus Suster Lucia Anggraini, OSU, atau Suster Lusi, penanggung jawab Galeri Ursulin Malang, penelitian tersebut melihat kegiatan mengumpulkan arsip, merawat koleksi, meneliti sejarah, dan menyusun narasi sebagai praktik yang menghasilkan pengetahuan.
Di Galeri Ursulin Malang, Suster Lusi tidak sekadar menjaga benda-benda peninggalan masa lalu. Dokumen, foto, artefak, dan berbagai jejak sejarah dikumpulkan, dikelompokkan, diteliti, lalu disusun menjadi narasi yang dapat dipelajari dan dibagikan kepada masyarakat.
Proses tersebut mengubah fragmen-fragmen sejarah menjadi pengetahuan dan memori kolektif. Di sinilah Suster Lusi dapat dilihat sebagai salah satu produsen pengetahuan. Melalui praktik merawat ingatan, ia ikut menghadirkan kembali sejarah dan pengalaman komunitas perempuan religius Ursulin agar dapat dikenal oleh generasi berikutnya.
Pengetahuan dalam proses ini tidak hanya lahir dari ruang kelas atau penelitian formal. Ia juga tumbuh melalui kerja dokumentasi, pengumpulan arsip, penulisan sejarah, dan upaya memberikan tempat bagi pengalaman yang berpotensi dilupakan.
Kerja tersebut berkaitan dengan pertanyaan tentang apa yang disimpan, siapa yang dihadirkan dalam sejarah, dan pengalaman apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Perspektif inilah yang dalam penelitian Latifah dibaca melalui konsep politik ingatan. Sementara itu, Latifah mengambil peran dalam produksi pengetahuan melalui penelitian dan diseminasi akademik. Praktik yang dilakukan Suster Lusi di Galeri Ursulin tidak berhenti sebagai pengalaman internal komunitas, tetapi diteliti, ditafsirkan, dan dibawa ke dalam percakapan akademik yang lebih luas. Melalui presentasi di KCIF 2026, pengalaman merawat sejarah tersebut menjadi bahan refleksi tentang kepemimpinan berbasis kepedulian, tanggung jawab antargenerasi, serta cara komunitas keagamaan membangun dan mewariskan pengetahuan.
Dengan demikian, terdapat perjumpaan dua proses produksi pengetahuan. Suster Lusi memproduksi pengetahuan melalui praktik merawat, mendokumentasikan, dan membangun ingatan komunitas. Latifah memproduksi pengetahuan melalui penelitian, penafsiran, dan diseminasi akademik.
Keduanya menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan dan kehidupan komunitas dapat menjadi sumber pengetahuan yang penting untuk dipelajari secara akademik. Dalam konteks perguruan tinggi berbasis Buddha, kajian semacam ini sekaligus membuka ruang dialog dan pembelajaran tentang keberagaman tradisi keagamaan.
Bagi STAB Kertarajasa, keterlibatan dosen dalam KCIF 2026 menjadi bagian dari penguatan budaya akademik melalui penelitian dan diseminasi pengetahuan. Forum ilmiah menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan beragam perspektif serta memperluas percakapan akademik lintas disiplin dan lintas tradisi.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk teori yang tinggal dipelajari. Pengetahuan juga lahir dari pengalaman, perhatian, praktik merawat, proses penelitian, dan keberanian untuk membagikannya kepada orang lain. Dalam proses itulah, kerja Suster Lusi dan penelitian Latifah bertemu. Mereka terus berupaya merawat pengalaman agar menjadi pengetahuan, lalu menghadirkan pengetahuan tersebut agar dapat terus memberi makna bagi masa kini dan masa depan.