Berita Detail

Latifah

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa di SDN 1 Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, berakhir pada Jumat, 23 Oktober 2026. Selama kurang lebih satu bulan, tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha, yaitu Kandi, Marda Ayu Yuliarti, dan Sacca Giri Vira Gatha, memperoleh pengalaman langsung dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengenali karakteristik peserta didik, serta memahami dinamika kehidupan sekolah.

Berada di kawasan dataran tinggi Tengger, di bawah kaki Gunung Bromo, SDN 1 Ngadas menghadirkan pengalaman pendidikan yang berkesan bagi ketiga mahasiswa. Interaksi dengan siswa dan guru membuka kesempatan bagi mereka untuk menghubungkan teori kependidikan yang dipelajari di bangku kuliah dengan situasi nyata di kelas. Dari pengalaman tersebut, mereka memetik pelajaran tentang kesabaran, empati, kemampuan bersosialisasi, serta ketulusan dalam menjalankan profesi guru.

 

Antusiasme siswa menghadirkan kebahagiaan tersendiri

Bagi Kandi, salah satu pengalaman paling berkesan selama PPL adalah menyaksikan antusiasme dan kebahagiaan siswa saat mengikuti pembelajaran menggunakan media visual dan metode aktif. Suasana pedesaan dengan udara dingin khas Ngadas turut memberikan kesan tersendiri. Setiap pagi, keramahan dan kesopanan siswa menjadi sambutan yang membuat kegiatan mengajar terasa menyenangkan.

Kandi merasa bangga saat melihat siswa mulai memahami materi melalui kegiatan menggambar dan belajar kelompok. Baginya, momen tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran yang dirancang secara menarik dapat membantu siswa terlibat lebih aktif dalam proses belajar.

Pengalaman itu juga mengubah cara Kandi memahami peran guru. Ia menyadari bahwa mengajar memerlukan keluwesan, kesabaran, dan empati untuk menghadapi karakteristik anak yang beragam. Guru perlu memahami kebutuhan setiap siswa, mendengarkan mereka, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan membahagiakan.

Kandi juga menemukan bahwa praktik mengajar tidak selalu berjalan persis seperti rancangan pembelajaran. Di kelas, mahasiswa berhadapan dengan perbedaan tingkat pemahaman, perubahan suasana hati siswa, dan situasi spontan yang menuntut penyesuaian. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa teori kependidikan merupakan pijakan awal, sedangkan keterampilan mengajar berkembang melalui pengalaman dan kepedulian dalam merespons kebutuhan siswa.

 

Keteladanan guru mengajarkan arti pengabdian

Pengalaman yang membekas bagi Marda Ayu Yuliarti adalah kesempatan melihat kehidupan dan dunia pendidikan di Ngadas yang berbeda dari lingkungan perkotaan. Ia menyaksikan bagaimana kegiatan pendidikan berlangsung dengan dukungan para guru yang tetap menjalankan tugasnya meskipun harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah.

Ayu mengaku senang melihat keramahan siswa dan antusiasme mereka setiap kali mahasiswa praktikan datang ke kelas. Namun, pelajaran paling berharga baginya datang dari sosok guru pamong, Sumini, S.Pd., yang menurut pengamatannya memiliki semangat besar dalam mendidik anak-anak di Ngadas meskipun rumahnya jauh dari sekolah.

Dari keteladanan tersebut, Ayu belajar bahwa profesi guru berkaitan erat dengan ketulusan, tanggung jawab, dan pengabdian. Ia menyebut semangat itu sebagai “Pengabdian Tanpa Batas”, sebuah nilai yang mendorongnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri menjadi pendidik yang berdedikasi.

Pengalaman tersebut membuat Ayu memahami bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan di kelas. Sikap dan keteladanan guru dalam menjalankan tanggung jawab juga memberikan pelajaran berharga bagi calon pendidik yang sedang belajar mengenali profesinya.

 

Kemampuan bersosialisasi menjadi bekal calon pendidik

Sacca Giri Vira Gatha mengenang keramahan guru dan siswa sebagai bagian paling berkesan selama menjalani PPL. Ia merasakan kehangatan hubungan di lingkungan sekolah hingga suasananya terasa seperti keluarga. Antusiasme siswa saat ia memasuki kelas juga membuatnya bahagia dan bersemangat untuk kembali mengajar.

Bagi Sacca, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya kemampuan membangun hubungan sosial yang baik. Menurutnya, kecerdasan intelektual perlu disertai keterampilan berinteraksi agar seseorang dapat menjalin hubungan dan diterima dalam berbagai lingkungan sosial.

Sacca juga memandang kegiatan mengajar sebagai proses belajar yang berlangsung terus-menerus. Ia tidak berangkat dengan anggapan bahwa mengajar selalu sulit atau selalu mudah. Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda, sehingga guru perlu terus belajar dan menyesuaikan pendekatan, termasuk saat kembali mengajar siswa yang sudah pernah ditemui.

Refleksi Sacca menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi, membangun kedekatan, dan memahami karakter siswa menjadi bagian penting dari bekal seorang calon pendidik. Hubungan yang baik dengan warga sekolah membantu mahasiswa menjalani praktik mengajar sekaligus belajar menjadi bagian dari lingkungan pendidikan.

 

Menghubungkan teori dengan praktik pembelajaran

Pelaksanaan PPL di SDN 1 Ngadas berlangsung pada 21 September hingga 23 Oktober 2026. Selama periode tersebut, mahasiswa melakukan observasi lingkungan sekolah dan proses pembelajaran, menyusun perangkat pembelajaran, melaksanakan praktik mengajar, serta merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan.

PPL ini menempatkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai salah satu fokus pelaksanaan pembelajaran. Pendekatan ini mencakup tiga prinsip, yaitu Mindful Learning atau pembelajaran berkesadaran, Meaningful Learning atau pembelajaran bermakna, dan Joyful Learning atau pembelajaran menggembirakan.

Dalam praktiknya, mahasiswa menggunakan beragam kegiatan sesuai materi dan kebutuhan siswa. Kegiatan tersebut antara lain tanya jawab, cerita, diskusi, refleksi, permainan edukatif, penggunaan kartu dan gambar, serta aktivitas kelompok. Pilihan metode dan media disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan kondisi sarana yang tersedia di sekolah.

Pengamatan selama PPL juga memperlihatkan bahwa kemampuan memahami materi dan konsentrasi siswa beragam. Sebagian siswa dapat mengikuti kegiatan secara aktif, sementara siswa lainnya memerlukan instruksi yang lebih sederhana dan pendampingan bertahap. Situasi ini memberi mahasiswa pengalaman untuk menyesuaikan strategi mengajar dan memahami pentingnya evaluasi dalam proses pembelajaran.

Melalui pengalaman tersebut, teori kependidikan yang dipelajari selama perkuliahan memperoleh konteks nyata. Mahasiswa belajar bahwa rancangan pembelajaran perlu disertai kemampuan membaca situasi kelas, memperhatikan respons siswa, dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan.

 

Menutup PPL dengan bekal pengalaman dan refleksi

Kegiatan PPL di SDN 1 Ngadas mendapat dukungan dari kepala sekolah, guru pamong, para guru, dan dosen pembimbing lapangan. Laporan kegiatan PPL disahkan pada 23 Oktober 2026 oleh Kepala SDN 1 Ngadas, Zakaria Abdul Harys, S.Pd., guru pamong Sumini, S.Pd., dan dosen pembimbing lapangan Latifah, S.S., M.A.

Berakhirnya PPL menandai selesainya satu tahap pembelajaran lapangan bagi Kandi, Ayu, dan Sacca. Pengalaman bersama siswa dan guru memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan pemahaman tentang kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian yang dibutuhkan dalam profesi pendidik.

Antusiasme siswa, keramahan warga sekolah, dan keteladanan guru pamong menjadi bagian penting dari pengalaman mereka di Ngadas. Ketiga mahasiswa membawa pulang pelajaran bahwa menjadi guru memerlukan kemauan untuk terus belajar, kesediaan memahami perbedaan karakter anak, serta tanggung jawab dalam mendampingi perkembangan peserta didik.

Bagi STAB Kertarajasa, PPL menjadi bagian dari proses pendidikan calon pendidik melalui pengalaman langsung di lingkungan sekolah. Pengalaman di SDN 1 Ngadas memperlihatkan bahwa proses menjadi guru tumbuh melalui perpaduan pengetahuan, keterampilan, hubungan sosial, dan ketulusan dalam menjalankan pengabdian.

PPL

Deep Learnig

Joyful Learning