Sebagai wujud nyata komitmen institusi dalam pembentukan karakter holistik serta pendalaman praktik spiritual Dhamma bagi para mahasiswanya, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa secara resmi menyelenggarakan kegiatan Vipassanā Retreat Mahasiswa (VRM) Sesi 1. Agenda pembinaan spiritual yang sarat makna ini dijadwalkan berlangsung secara intensif selama sepuluh hari penuh, yakni terhitung mulai tanggal 1 hingga 10 Juli 2026, di lingkungan kampus yang tenang dan mendukung kekhusyukan batin.
Pelaksanaan retret meditasi intensif ini diikuti dengan penuh antusias oleh 30 orang mahasiswa aktif yang sedang menempuh studi pada Semester 4. Kelompok peserta tersebut terdiri dari komposisi yang harmonis dan penuh dedikasi spiritual, yakni 9 orang sāmaṇera, 10 orang atthasīlanī, serta 11 orang mahasiswa umum, yang bersama-sama menanggalkan aktivitas akademik rutin demi memfokuskan diri pada pemurnian pikiran dan pengembangan kesadaran diri.
Seluruh rangkaian pembinaan spiritual ini berada di bawah bimbingan langsung yang penuh kearifan dari Bhante Ashin Kusaladhamma. Pada sesi pembukaan retret, beliau memberikan pengarahan fundamental dengan menekankan pentingnya menjalani latihan meditasi secara sungguh-sungguh, disiplin, dan berkesinambungan tanpa ada ruang untuk keraguan.
Dalam pesannya, Bhante mengingatkan bahwa kesempatan emas untuk mengikuti latihan meditasi intensif selama sepuluh hari tidak dapat diperoleh oleh setiap orang di tengah kesibukan dunia modern. Oleh karena itu, beliau berpesan agar durasi yang relatif singkat tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh setiap peserta dengan mengerahkan segenap perhatian, disiplin tinggi, dan ketulusan batin.
Memasuki tahap inti praktik, Bhante Ashin Kusaladhamma membimbing para peserta untuk menerapkan teknik meditasi Vipassanā murni berdasarkan metode dan tradisi mulia Mahāsi Sayadaw. Dalam latihan ini, para peserta diajarkan untuk menjadikan gerakan kembung serta kempisnya dinding perut sebagai objek utama pengamatan penuh perhatian (sati).
Melalui pengamatan yang konsisten terhadap gerak napas dan perut tersebut, para peserta dibimbing untuk secara langsung menyadari dan merasakan manifestasi dari empat unsur besar alam semesta atau mahādhātu. Unsur-unsur tersebut meliputi unsur tanah (paṭhavī), unsur air (āpo), unsur api (tejo), dan unsur angin (vāyo), yang senantiasa bekerja serta menyusun realitas tubuh jasmani maupun pengalaman hidup sehari-hari.
Tidak hanya mempraktikkan meditasi duduk dan jalan secara fisik, pada sesi pendalaman berikutnya Bhante juga menguraikan secara komprehensif mengenai Satipaṭṭhāna Sutta sebagai fondasi utama pengembangan sati. Beliau memaparkan empat karakteristik luhur dari perhatian penuh, yaitu kesadaran yang terus-menerus, kewaspadaan tajam terhadap fenomena saat ini, ketahanan ingatan objek tanpa terputus, serta kemampuan menjaga batin agar tetap berakar di masa kini tanpa terseret oleh penyesalan masa lalu maupun kecemasan menghadapi masa depan.
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian kegiatan pembinaan spiritual ini, Bhante Ashin Kusaladhamma kembali mengukuhkan semangat para peserta melalui pesan-pesan bijak agar senantiasa memelihara ketekunan, kegigihan, dan perjuangan batin yang konsisten dalam berlatih. Beliau mengingatkan bahwa pencapaian batin dan kemajuan spiritual yang sejati tidak pernah turun secara instan, melainkan lahir dari proses latihan yang sabar, disiplin, dan pantang menyerah.