Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa turut berkontribusi dalam penguatan pemahaman dan praktik keagamaan umat Buddha melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bentuk kontribusi tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pendalaman Dhamma tentang pelafalan Palivacana yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Sikhadhamma Santibhumi, Tangerang, pada 16–17 Mei 2026.
Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 40 peserta tersebut, Atthasilani Dhammanandini Puji Lestari, dosen STAB Kertarajasa, hadir sebagai narasumber utama. Melalui materi yang disampaikan, peserta diajak memahami pentingnya membaca Palivacana (paritta) secara baik dan benar sebagai bagian dari praktik Dhamma yang tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Dalam pemaparannya, Atthasilani Dhammanandini menjelaskan bahwa Palivacana pada hakikatnya bermakna “perlindungan”. Palivacana bukan sekadar rangkaian kata-kata suci yang diucapkan secara mekanis, melainkan kumpulan khotbah Sang Buddha yang berfungsi sebagai perlindungan batin. Ketika dihafalkan dan dilafalkan dengan penuh penghayatan, pikiran akan terpusat pada makna Dhamma sehingga kesadaran menjadi lebih kuat, kekotoran batin berangsur mereda, dan berkembang cinta kasih universal (metta) serta kebenaran (sacca).
Menurutnya, kondisi batin yang demikian dapat mendukung munculnya ketenangan, mempercepat berbuahnya kamma baik, dan menjadi penopang spiritual dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan, termasuk ketika kesehatan jasmani sedang mengalami penurunan.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa efektivitas Palivacana sebagai perlindungan batin didukung oleh lima faktor utama, yaitu keyakinan yang kuat (saddhā), moralitas yang terjaga (sīla), cinta kasih (metta), kebenaran dalam mengucapkan Dhamma (sacca), dan ketepatan pengucapan serta hafalan (vācā). Oleh karena itu, kemampuan melafalkan bahasa Pāli dengan benar menjadi aspek yang sangat penting dalam praktik pembacaan paritta.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik bahasa Pāli yang memiliki aturan vokal panjang-pendek (lahu dan garu), tekanan bunyi, serta artikulasi konsonan yang spesifik. Narasumber memberikan berbagai contoh bagaimana kesalahan pelafalan dapat mengubah makna suatu kata. Misalnya, kata Buddha yang berarti ‘Yang Tercerahkan’ dapat berubah makna apabila diucapkan tidak sesuai kaidah pelafalan bahasa Pāli. Dengan demikian, mempelajari tata baca yang benar tidak hanya membantu menjaga makna ajaran, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan (pūjā) kepada Tiratana.
Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari para peserta. Banyak peserta mengapresiasi metode pembelajaran yang menekankan praktik langsung sehingga memudahkan mereka memahami tanda baca, pengucapan, dan pelafalan bahasa Pāli secara tepat. Peserta juga menilai suasana pelatihan berlangsung nyaman, komunikatif, dan didukung pendampingan yang sabar dari narasumber serta panitia. Selain itu, beberapa peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini membantu mereka lebih percaya diri dalam membaca paritta dan memahami makna pembacaan yang dilakukan dalam kehidupan keagamaan sehari-hari.
Berbagai masukan konstruktif juga disampaikan sebagai bentuk antusiasme peserta terhadap program ini. Sebagian besar berharap pelatihan Palivacana dapat dilaksanakan secara rutin, bahkan beberapa kali dalam setahun, agar keterampilan yang telah diperoleh dapat terus dipertajam. Peserta juga mengusulkan adanya materi lanjutan seperti pembacaan Dhammapada, pembagian bahan ajar yang dapat dipelajari secara mandiri di rumah, serta pengelompokan peserta berdasarkan usia atau tingkat kemampuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat seperti ini, STAB Kertarajasa terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kehidupan beragama umat Buddha. Transfer pengetahuan yang dilakukan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga mendukung lahirnya praktik Dhamma yang lebih tepat, mendalam, dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Melalui pemahaman Palivacana yang benar, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga memancarkan energi positif bagi lingkungan sekitar. Ini adalah kontribusi nyata umat Buddha dalam membangun masyarakat yang lebih damai, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai Dhamma,” pungkas Atthasilani Dhammanandini di akhir sesi.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendidikan dan pendalaman Dhamma yang aplikatif masih sangat besar di tengah masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi keagamaan Buddha dan komunitas umat menjadi langkah strategis dalam memperkuat literasi keagamaan sekaligus mewujudkan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat luas.
Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan akses pembelajaran keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat. Selain itu, pelatihan ini mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh dengan memperkuat nilai-nilai etika, kesadaran diri, toleransi, dan kehidupan damai yang diajarkan dalam Dhamma. Melalui penguatan literasi keagamaan dan praktik spiritual yang benar, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh STAB Kertarajasa turut mendorong terbentuknya individu dan komunitas yang lebih berkarakter, harmonis, serta mampu berkontribusi positif dalam kehidupan sosial yang berkelanjutan.